‘Ibaadur Rahman (3)

‘Ibaadur Rahman (3)

Berlindung kepada Allah dari Siksa Neraka

               Setiap mukmin pasti memiliki cita-cita tinggi untuk meraih surga dan senantiasa memohon kepada Allah SWT agar dihindarkan dari siksa api neraka. Bahkan Nabi Saw pernah mengajarkan satu do’a yang disunnahkan untuk dibaca di akhir sholat saat tahiyat dan sebelum salam :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksaan kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal.”

Do’a tersebut adalah satu dari sekian banyak do’a yang dianjarkan oleh Nabi Saw untuk meminta perlindungan kepada Allah SWT agar diselamatkan dari siksa neraka. Inilah yang kemudian menjadi sifat berikutnya yang melekat pada seorang ‘ibaadur Rahman yaitu selalu meminta perlindungan agar terhindar dari siksa neraka.

Allah SWT berfirman :

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Rabb kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.” (QS. Al Furqan: 65)

               Terdapat bebarapa makna dari para alhi tafsir dalam mengartikan kalimat غَرَامًا. Imam al Khudri menafsirkan gharama sebagai siska yang sangat melelahkan. Sedangkan Ibnu Abbas menafsirkan gharama sebagai siksa yang mengerikan dan menyakitkan. Dalam tafair Ruhul Bayan dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan gharama adalah keburukan yang abadi dan kebinasaan yang pasti dan mustahil untuk bisa keluar darinya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa gharama adalah segala bentuk keburukan yang terdapat di dalam neraka.

               Di ayat selanjutkan Allah SWT memperjelas status neraka bahwa ia adalah seburuk-buruknya tempat tinggal atau tempat untuk menetap. Allah SWT berfirman :

إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا

“Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al Furqan: 66)

Imam as Sa’di menjelaskan bahwa ini adalah ungkapan do’a dengan nada mengemis kepada Allah SWT dari mereka ‘ibaadur Rahman. Meraka merendahkan diri dihadapan Allah SWT seraya mangakui kelemahannya sebagai seorang hamba yang mustahil mampu menanggung dan kuat atas azab Allah SWT.

Tidak Boros dan tidak Kikir

               Sifat selanjutnya yang mendapat sanjungan dari Allah SWT kepada ‘ibaadur Rahman adalah sifat tawasshut atau pertengahan dalam membelanjakan harta. ‘baadur Rahman jauh dari sifat berlebihan dalam membelanjakan hartanya pada hal-hal yang mubah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan tidak pula ia kikir.

               Allah SWT berfirman :

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al Furqan: 66)

               Setiap muslim bebas membelanjakan hartanya pada sesuatu yang mubah atau untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena pada dasarnya setiap lini aktivitas seorang muslim dapat bernilai ibadah termasuk juga dalam hal membelanjakan harta. Disamping itu Islam juga melarang untuk bersikap kikir atau pelit dalam memenuhi kebutuhan pokok sehingga terjadi penumpukan harta karena enggan dibelanjakan. Sikap seperti ini justru menimbulkan mudharat karena dapat membahayakan jiwa seperti kelaparan, tidak memiliki pakaian yang layak serta tempat tinggal yang memadai.

               Dalam sudut pandang seorang ‘ibaadur Rahman, harta hanyalah titipan dari Allah SWT yang harus dimanfaatkan sebaik dan sehati-hati mungkin. Karena dengan harta seseorang dapat meraih kemuliaan di sisi Allah SWT dengan gemar berinfak, sedekah, zakat dan juga berwakaf. Namun di sisi lain seseorang juga bisa menjadi hina dalam pandangan Allah SWT kekita ia justru diperbudak oleh hartanya. 


Komentar

blog comments powered by Disqus